TRIP DAN TIPS BAGI WISATAWAN YANG BARU DAN BELUM PERNAH BEREKSPLORASI DI YOGYAKARTA
SESSION 1
Libur telah datang. Saat yang paling dinanti untuk
sekedar refreshing atau mengistirahatkan otak sejenak dari setumpuk tugas kerja
ataupun deadline yang menjadi momok yang menghantui. Sebenarnya tak ada rencana
untuk menjelajahi kota pelajar ini, tetapi untuk pergi kesana merupakan salah satu
impian. Hal yang membuat saya menyukainya karena rasa kagum sekaligus mencintai
Yogyakarta karena penuih dengan sejarah dan tempat- tempat budaya.
Sudah banyak daftar tempat wisata yang letaknya
berdekatan dengan malioboro yang sudah saya impikan sebelum keberangkatan.
Kesempatan menjelajah ini merupakan karena saya ada suatu keperluan yang
mendesak yang mengharuskan pergi kesana. Memang sudah lama kejadiannya tetapi
apa salahnya jika saya ulas kembali barangkali sebagai patokan atau sekedar
ancang- ancang untuk melancong kesana.
Jika anda berencana pergi ke Yogyakarta dengan dana pas-
pasan atau keuangannya sudah terencana sebelumnya dan menaiki kereta api turun
di Stasiun Tugu. Kemudian anda menginap dihotel dekat stasiun tersebut. Saya
sarankan untuk menjangkau hotel sekitaran jalan pasar kembang ( jalan ini
letaknya dekat dengan stasiun tugu dan malioboro) jangan menaiki becak karena
ketika anda keluar dari stasiun maka akan banyak tukang becak menawarkan jasa.
Tarifnya bervariasi mulai dari 20 ribu sampai 50 ribu padahal jika ditempuh
dengan jalan kaki itu tidak sampai 10 menit- an ( tetapi tergantung juga jauh
dekatnya). Lain halnya jika anda merasa sudah sangat letih atau capek tidak
apalah untuk menumpangi becak,itung- itung merileksasikan otot kaki yang
tegang. Apalagi jika kedatangan kereta malam hari sangat disasrankan untuk naik
becak, tetapi jika anda mampu menawar harga becak untuk meminimalisir
pengeluaran bisa saja dilakukan. Disini pintar- pintar wisatawan dalam
mengambil keputusan. Ini pengalaman
pribadi, waktu itu saya turun stasiun tugu dan akan menuju Hotel Ratna Batik
(bukan endorse ya hihihi). Ketika saya dan rekan- rekan mulai keluar dari area
stasiun sudah banyak tukang becak mengantri sekedar menawarkan atau membujuk
agar menggunakan jasanya. Saya sendiri berinisiatif untuk jalan kaki saja
sambil melihat ke google map.
“becak mbak?” kata seorang tukang becak kayuh yang sedari
tadi membuntuti kami.
“ mboten pak (
tidak pak), kami jalan kaki saja”
“ mau kemana mbak emangnya?
“kami mau ke istana batik”
“ owalah daerah pasar kembang, naik becak saja mbak, itu
lumayan jauh lho dari sini”
Saya mencoba melihat ke google map lagi
“ 20 ribu ae mbak iku
lumayan adoh nek mlaku ( itu lumayan jauh kalau jalan kaki”
Rekan saya meng-iyakan tukang becak tersebut. Saya
berfikir positif saja bahwa tempat kami jauh
dari jangkauan stasiun Tugu. Kebanyakan becak kayuh bukan bentor (becak
motor) yang berada di sekitaran stasiun ini. Setelah 10 menit mengayuh becaknya
bapak tersebut memberhentikan kami semua di sebuah bangunan klasik yang penuh
dengan ornamen- ornamen khas Jawa.
“sudah sampai, ini tempatnya”
“lho beneran pak?”
“iya”
Kami terdiam sejenak dan berguman
“ waduh kena zonk ini, jarak dekat kena tipu 20 ribu”
Tetapi mau gimana lagi, waktu sudah menjelang malam dan
keadaan pun sudah capek.
Tempat wisata yang berdekatan dengan
Malioboro yang bisa anda capai dari jalan pasar kembang dengan becak atau jalan
kaki ada Benteng Vredeburg, titik 0KM, tugu Jogja, dan pastinya Pasar
Beringharjo. Sebelum anda menyusuri daerah- daerah bersejarah tersebut
sebaiknya anda memulainya di pagi hari karena cuaca yang masih cerah dan
jalanan sepanjang Malioboro- Beringharjo sepi dan tidak terlalu banyak
kendaraan, becak ataupun delman yang berlalu- lalang. Sambil menikmati udara
pagi jogja, kurang afdol jika tidak terlebih dahulu ber-selfie ria atau sekedar
berfoto di depan plang jalan Malioboro yang sepanjang hari ramai dikunjungi wisatawan
dari pagi sampai petang. Setelah itu,
anda bisa langsung melanjutkan perjalanan ke tempat terdekta yaitu Benteng
Vendenburgh.
Suasana plang hijau bertuliskan Jalan Malioboro di pagi hari yang masih sepi pengunjung terletak di
area Malioboro-Beringharjo
|
Setelah selesai berfoto di tempat tersebut anda bisa
melanjutkan ke tempat terdekat, seperti Benteng Vredeburg. Menurut pengalamana
saya, Benteng Vredeburg di pagi hari iu asri pakek banget. Sepanjang perjalanan
menuju benteng ini, pedagang kaki lima, angkringan bahkan penjual sate
sepanjang jalan belum nampak meskipun sudah ada beberapa yang menggelar
dagangannya. Selain itu, tiket masuknya sangat terjangkau, cukup mengeluarkan
2000 rupiah sekali masuk. Di dalam kawasan benteng terdapat homestay, bangunan
teater mini yang menampilkan sejarah Benteng Vredeburg. Kemudian ada beberapa
bangunan yang di dalamnya menyimpan hal- hal yang sangat edukatif yang berhubungan
dengan hal-hal yang menyangkut benteng ini. Setelah itu, ada beberapa pantung
pahlawan nasional dan miniatur tugu jogja yang terlihat seperti asli.
Tiket masuk benteng
Vredeburg senilai 2000 rupiah dan suasana di sekitaran kawasan benteng
sudah ada beberapa pengunjung yang memadati.
|
Penampakan dari
depan pintu masuk benteng, masih tergelantung bendera merah putih karena
masih bersuasana hari kemerdekaan nasional ke-71th.
|
Hari sudah mulai siang dan panas. Kami semua memutuskan
untuk mengakhiri keliling Benteng Vredeburg dan tidak menuju titik OKM atau
bahkan tugu jogja. Jika menuju kedua tempat ini, suasana yang indah untuk
dibangun adalah malam hari. Memang titik 0KM pada siang hari juga pasti banyak
orang berlalu lalang dan pastinya banyak pedagang cinderamata atau kaos oblong
khas Jogja.
Ketika keluar dari benteng, di sepanjang jalan banyak ibu-
ibu menjajakan sate yang di panggang di atas tungku arang. Saran saya hati-
hati jika membeli sate seperti ini, bisa- bisa anda memakan sate kulit ayam
bukan sate daging ayam karena ini kejadian waktu saya membeli sate di dekat
benteng.
Saya mengamati satu per satu pedaagang sate disini, saya
berguman
“sepertinya enak siang- siang makan sate dan belum pernah
juga makan sate disini”
Saya bertanya kepada salah satu pedagang sate “ satenne
pintenan buk (harga satenya berapaan bu?)”
“ 10 ribu dapat 8 sate dan 1 lontong”
“ iya bu, saya pesan 1”
Saya sebenarnya penasaran dengan rasa bumbu dan satenya
seperti apa, di sekitaran benteng sampai ke jalanan Beringharjo maupun
Malioboro banyak sekali pedagang serupa seperti ini. Setelah ibu itu memberikan se-pincuk sate
kepada saya
“nyam” satu tusuk sudah terlewatkan saya makan dan saya
kena zonk lagi, huhuhu seluruh tusuk sate itu ternyata kulit ayam bukan
dagingnya, kalau gini mah saya kapok buat beli, kalau untuk segi rasa sih
lumayan tapi itu lho kulit ayam yang bikin saya greget” zonk kedua kalinya
sudah. Mending ketika anda membeli sate di pedagang pinggiran seperti saya ini,
ya lebih berhati- hati lagi apakah itu sate daging ayam atau kulit ayam” maaf
foto satenya gak ada soalnya keburu ngacir saya hihihi.
Perut terasa masih lapar, saya dan rekan- rekan ingin
makan gudeg. Makanan ini jangan sampai ketinggalan kalau berkunjung ke Jogja.
Kami mencari becak untuk menuju tempat dimana satu kawasan berjualan gudeg saja
mulai dari ujung kiri sampai ujung kanan hanya masakan gudeg yang ditawarkan. Kami makan di sebuah kedai nasi gudeg yang
harganya di bandrol cukup terjangkau. Disni bervariasi harganya tergantung
isian yang diinginkan pembeli, seperti halnya harga 25 ribu itu sudah termasuk
gudeg dan isiannya ( termasuk nasi, sambel krecek, telor dan gudegnya sendiri)
serta paha ayam. Porsinya sudah lebih dari cukup. Menurut pengalaman teman saya
yang pernah membeli gudeg di daerah sekitaran Pasar Beringharjo, uang 25ribu
hanya dapat seporsi gudeg dan sate telur puyuh saja. kalau dari segi rasa
tergantung selera masing- masing orang sih. Kata teman saya masih mending di
kawasan gudeg ini kalau dilihat dari porsi penyajiannya.
Sebelum makan gudeg, kami dari Benteng Vredebug menaiki
becak. Awalnya bapak tukang becak menawarkan 10 ribu itu keliling tiga lokasi
yang biasanya menjadi tujuan wisatawan, seperti tempat bakpia patok, dagadu dan
( maaf saya lupa satunya hehehe). Kami menjelaskan bahwa tidak pergi ke tempat
tersebut, tetapi ke tempat kawasan gudeg.
“ berapa pak? 10 ribu apa?
“ 20 ribu mbak”
10 ribu saja pak, ya ya?
“ iya deh”
Setelah selesai makan gudeg dan kami kembali ke tempat
penginapan. Saya menyodorkan uang 10 ribu.
“ ini pak”
“ 15 ribu mbak”
“lho pak katanya 10 ribu kok sekarang 15 ribu?”
“ jaraknya jauh mbak dari tempat tadi kesini, kan
jalannya muter”
Dengan perasaan sedikit dongkol saya memberikan uang
tersebut. Kalau menurut saya, sebelum anda menaiki becak tanyakan terlebih
dahulu harga pastinya berapa. Kalau bisa ditawar ya tawar saja, tetapi kalau
tukang becak tersebut menggunakan becak kayuh bukan bentor mending ikhlaskan
saja itung- itung amal. Kan namanya ngayuh itu perjuangannya berat karena
tenagamnya harus ekstra kuat.
Pada malam harinya jalan sekitaran malioboro padat
merayap dan banyak wisatawan atau penduduk lokal yang pergi kesini. Becak
maupunn delman banyak berlalu lalalng juga mengantarkan penumpang ke tempat
yang mereka inginkan. Pedagang kopi keliling yang di seduh dengan alat canggih
ala- ala cafe pun tersedia, sepertinya mereka merupakan mahasiswa- mahasiswa kreatif
pemburu kehidupan mandiri. Selain itu, ada juga gerobak dorong penjual wedang
ronde. Setelah itu, setelah disuguhi beberapa minuman yang memikat tenggorokan
tersebut. Di seberang jalan, tepatnya di depan Malioboro Mall ada beberapa
mahasiswa mengadakan pentas menari keliling dan gratis. Hal ini dilakukan
karena mereka semua akan pentas di luar negeri untuk melestarikan tarian
tradisional Indonesia. Sungguh kehidupan
malam yang mempesona sekali yang tidak akan ditemui di tempat saya sendiri.
Saya terus menyusuri jalan setapak. Berdekatan dengan mahasiswa yang mengadakan
tarian keliling itu, ada banyak gerombolan orang, saya penasaran dan mencoba
mendekat, ternyata ada perkusi tradisional yang membawakan tembang- tembang
jawa. Dimana lagi coba lihat beginian kalau tidak di Jogja. Disinilah terkadang
saya merasa melted sendiri dan membuat jantung saya berdegup kencang seolah
menandakan betapa Jawa itu berwarna dan unik jika kita mampu melihat dari sisi
seninya.
Tugu Jogja dari pasar kembang kurang lebih 20 menit- 30
menit jika ditempuh dengan jalan kaki, tetapi kalau naik becak hanya sekitar 10
menitan. Banyak angkringan yang buka di sepanjang jalan, mulai dari yang klasik
sampai yang berkelas elit. Semua tersedia. Daerah tugu sangat ramai banyak muda
mudi berlalu lalang untuk sekedar berselfie ria di sepanjang jalan atau sekedar
makan sate atau bisa juga berfoto dengan binatang- binatang buas yang dibandrol
tarif seikhlasnya untuk satu kali jepretan. Ada ular yang cukup besar berwarna
kuning dan burung hantu. Selain itu, juga ada banyak yang mengenakan kostum
badut sampai dengan prajurit istana, biasanya mereka menawarkan diri untuk
sekedar berfoto dengan mereka dan membayar 5000 saja. Tugu Jogja tempatnya
terletak di tegah pertigaan jalan, jadi kalau anda kesini lebih baik tengah
malam saja untuk menghindari hal- hal yang tidak diinginkan.
Lalu lintas di
sepanjang Tugu Jogja ramai kendaraan. Pengunjung beramai- rami menyebrangi
jalan yang dibantu oleh polisi dan polwan.
|
Selain Tugu Jogja yang enak dinikmati pada malam hari,
yaitu titik 0km. Letaknya di perempatan jalan (seingat saya dekat Bank
Indonesia hihihi). Disini pemandangannya hanya plang yang bertuliskan titik 0
kilometer saja dan tidak ada yang lain, tetapi bagi pelancong kurang greget dan
afdol kalau belum kesini.
Titik 0 kilometer
dan situasi disekitarnya yang ramai orang belalu lalalng
|





5 komentar:
weh sudah kerja yak? kuliahnya udah kelar?
Belum, masih kuliah. Sudah lulus ya kuliahnya?
Di tunggu mbk session 2 nya ��
akhr september kmrn sih lulusnya :)
Syukur. Semoga ilmunya bermanfaat selalu. Aamiin
Posting Komentar