SECRET ADMIRE
Cinta
adalah kata semu yang tak dapat kita sentuh ataupun kita lihat dengan kasat
mata. Senyum, bahagia, rindu adalah bentuk
cinta yang tak tersirat. Aku mampu berucap seperti ini karena aku menjadi
bayangan semunya yang tak pernah diketahui oleh siapapun termasuk perempuan
yang hanya aku kagumi dalam pandangan dan batinku saja.
Cinta
ini membunuhhku seperti terjebak di dasar laut yang tidak ada oksigen. Serasa
mati dan terbujur kaku. Seperti pagi ini aku lihat perempuanku melintas di
depanku serasa sesak di dada namun bahagia meskipun bukan aku yang berada
disampingnya.
“ woy Gusti ngapain lo bengng disitu?” tanya
Rama.
“ Enggg engg enggak
apa-apa kok” jawabku terbata- bata.
“ buruan masuk
kelas, pak Dwi kurang 5 menit dateng” teriak Rama yang mencuri perhatian anak-
anak di depan gerbang sekolah.
“ iyaaaaa rammm”
sahutku lagi.
Selama
pelajaran pak Dwi berlangsung, aku hanya terdiam membisu tidak banyak
menanyakan suatu hal seperti biasa karena serasa raga dan jiwaku masih
mengikuti jejak Raisa, perempuan yang telah membuatku terpesona.
“Gusti, tolong
maju ke depan dan kerjakan no 10. Halaman 201” pinta pak Dwi.
Gusti
hanya terdiam membisu dan tidak menyadari bahwa pak Dwi menyuruhnya untuk maju
ke depan mengerjakan soal. Di bawah alam sadarnya dia masih memikirkan Raisa
gadis cantik yang membuat dia terpanah, tetapi Gusti tak berani umendekatiny.
Setiap Gusti melihat Raisa merasa nervous
dan mustahil untuk tetap menaruh harapan kepada Raisa.
“
Gustiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, buruan maju ke depan dan kerjakan soal n0.
10” teriak pak Dwi dengan nada kesal.
“ saya pak?
Lho…..” diam sesaat lalu maju kedepan.
Bel sekolah
berbunyi pertanda pelajaran telah usai. Rama dan Gusti berjalan beriringan
menuju tempat parkir sepeda.
‘ lo langsung
pulang Gus?” tanya Rama dengan muka kucelnya.
“ iya Ram, gue
langsung pulang soalnya cacing di perut udah pada harlemshake haha…dan hari ini lagi pengen masakan mama gue
tercinta” jawab Gusti sembari ketawa dan menaiki sepedanya.
“ gue juga
langsung pulang Gus, lagi gak pengen kemana- mana, sama, gue juga laper dan
pengen nikmatin mangut lele buatan mama haha…” sahut Rama sembari tertawa
kecil.
Mereka segera
bergegas pulang kerumah masing- masing karena jam sudah menunjukkan pukul 14.00
dan terik matahari begitu menyengat di kulit. Mereka berdua segera pergi
meninggalkan parkiran sekolah, lalu pulang dengan mengayuh sepeda kencang-
kencaang.
______________________________
Pagi
ini sang mega sudah menampakkan dirinya begitu indah. Mama pun juga mulai sibuk dengan aktivitasnya.
“Gusti bangun, kamu
tidak pergi kesekolah?” tanya mama dengan lirih.
“iya ma, Gusti
pergi kesekolah kok” jawab Gusti dengan nada setengah sadar.
Gusti
bergegas bersiap ke sekolah dengan tergesa- gesa karena jam sudah menunjukkan
pukul 06.45 dan sesampainya di sekolah.
“Gus, lo baru
nyampek? Gue udah cariin daritdi” tanya Rama dan Dion.
“iya nih haha..
sorry bro” jawab Gusti nyengir.
“ Gue tadi malam
WA (Whatsapp) Raisa dan gue bilang
sabtu depan mau ngajakin dia jalan” celetuk Dion.
“ gila lo yon,
gue tau lo ada maksud terselubung ngajakin Raisa keluar” sahut Rama
Gusti
hanya terdiam dan sesekali tersenyum tipis untuk menutupi hatinya yang terasa
tertusuk duri yang amat perih. Dia tidak tau harus menjawab dan berkata apa
lagi untuk menutupi perasaan yang sedang dia alami. Sakit, kecewa dan sedih
jadi satu dalam hatinya.
“Gue ke kelas
dulu ya?” sahut Gusti lirih
“ Ok bro” jawab
Rama dan Dion
Selama
pelajaran di kelas hari ini, Gusti hanya terdiam tidak seperti biasanya yang
ceria dan aktif. Rama melihat Gusti dari seberang meja dan dalam hati Rama menyelipkan
sebuah pertanyaan “apa yang membuat Gusti murung dan tidak bersemnagat?”.
Teeet teeeet
teeeeeeet ( bel pulang sekolah berbunyi) dengan langkah gontai Gusti pergi
meninggalkan kelas.
“ Gustiiiiii, lo
mau pulang langsung? Jangan pulang dulu, ikut gue ke taman deket kompleks” ajak
Rama sembari memasang muka melas dan memaksa.
“ iya deh iya
gue turutin mau lo” jawab Gusti sedikit terpaksa.
Mereka
berdua mengayuh sepeda sekencang- kencangnya dan sampailah di taman kompleks
yang dekat dengan rumah Gusti dan Rama.
“ Gus gue boleh
tanya sesuatu gak ? tapi jangan marah” Tanya Rama.
“ iya, lo mau
tanya apa” sembari tersenyum.
“ lo kenapa tadi
ninggalin gue sama Dion setelah dia cerita kalau ngajakin Raisa jalan sabtu
depan? Lo jujur sama gue dan tolong jangan bohong tentang jawaban dari
pertanyaan gue ini” tanya Rama dengan ekspresi penasaran
“ sebenarnya gue
males buat jujur masalah ini, tapi mau gimana lagi karena lo yang maksa gue
akan jujur bahwa gue sayang sama dia udah lama dan gue memimpikan kelak gue
bisa jadi pacarnya. Ahhhh sudahlah gue kubur dalam- dalam angan- angan omong
kosong tentang itu. Gue buang jauh- jauh dan berusaha melupakan semua perasaan
ini meskipun berat” sahut Gusti kesal dan penuh emosi.
“ Tapi lo kan
gak tau perasaan Raisa sebenarnya, ya memang dia deket dengan banyak cowok-
cowok keren di sekolah, tapi gue belum pernah denger dia jadian sama salah satu
dari mereka” jawab Rama menenangkan perasaan Gusti
“ sudahlah
lupakan, jangan bahas lagi, gue males” sangkal Gusti
“ besok gue akan
temuin lo sama Raisa dan disitu akan jelas semuanya” celetuk Rama.
_________________________________
Hari
ini Rama berangkat lebih awal dari biasanya untuk menemui Raisa dan menjelaskan
maksud pertemua mereka. Setelah Rama menjelaskan semuanya, Raisa diajak Rama
menemui Gusti. Kebetulan hari itu Gusti juga berangkat lebih awal dari
biasanya.
“Gusti tumben lo
udah berangkat jam segini ? ini gue udah bawa Raisa, lo bilang aja semuanya ke
dia biar hati lo lega” tanya Rama sembari mengejek
“ Lagi pengen aja
berangkat lebih awal. Rai i i saa ngapan kamu disini’ sahut Gusti gugup dan
kesal dengan tingkah Rama
“ Katanya lo mau
ngomong sesuatu ke gue? Mau ngomong apa” jawab Raisa penasaran
“ Ok disini gue
bakal bilang ke lo yang sejujurnya dan gue gak bisa umpetin lagi kalau gue
sayang lo” bergemetar tangan Gusti
“ Sorry Gusti, gue gak bisa balas perasaan lo karena gue lagi
pengen sendiri , gue gak pengen pacaran dan terimakasih lo udah sayang gue”
jawab Raisa lirih dan mata berbinar
“ Gue tau sa
konsekuensi dari perasaan ini bahwa gue harus siap sakit hati, tapi gue bahagia
bisa ungkapin perasaan ini ke lo karena gue capek harus menyembunikan perasaan
ini bertahun- tahun dan bertopeng
kemunafikan. Gue lega ngomong ini ke lo meskipun hati gue hancur” sahut Gusti
sambil tersenyum kecil
“Maaf Gusti”
jawab Raisa lirih
Kemudia Raisa lari
sembari terisak- isak tanpa berkata sedikitpun.
“
Raisaaaaaaaaaaaa perlu lo tau, sekarang gue menyadari bahwa gue sayang dan
cinta lo tetapi tak mengapa jika perasaan lo gak gue miliki karena liat lo tiap
hari udah lebih dari cukup sebagai pengagummu yang semu” teriak Gusti.
Setelah
pertemuan ini berlangsung Gusti bolos untuk masuk kelas, kemudian bergegas
pulang dan mengatakan pada mamanya dia ingin pindah sekolah di desa pinggiran
kota Garut tempat dimana neneknya tinggal. Rama tidak bisa menahan Gusti karena
ini keputusan bulatnya.
“ Ram gue titip
tulisan di origami ini ya untuk Raisa? terimakasih”Gusti berkaca- kaca sembari
bergegas meninggalkan Rama.
Aku akan tetap menjadi bayangan semumu dan aku
bahagia menjadi bayangan itu meskipun aku tak bisa menggapaimu. GUSTI
“ Iya sama-
sama” berbalik arah meninggalkan Gusti, dalam hati Rama mengatakan selamat tinggal Gusti sahabat terbaikku.
##### End #####



