0 komentar

PLANDAAN YANG EKSOTIS



PLANDAAN YANG EKSOTIS


Pengorbanan merupakan kata yang tepat untuk aku selipkan pada perjalanan kali ini. Tepatnya pada hari selasa tanggal 26 April 2016 sepulang kuliah aku bersama keempat temanku sebut saja mada, ninik, tarwiya dan ana akan melakukan survey ke dusun kedungdendeng kec. Plandaan Kab. Jombang dalam rangka pengajuan proposal PKM-M ke dikti yang deadline pengunggahan berkas tanggal 28 April 2016. 
Semua serasa mendadak dan penuh dengan permasalahan mulai dari medan jalan dan motor. Sebelum kita berangkat ke kec. Plandaan, bertanya dari mulut ke mulut pun menjadi ajang yang kami lakukan untuk mengetahui sedikit gambaran  bagaimana kec. Plandaan dan desa- desa yang bernaung dibawahnya. Untuk menuju kec. Plandaan kita berlima melajukan sepeda motor kerumah mada sebab perjalanan untuk sampai ke plandaan harus menaiki perahu atau orang jawa biasa menyebutnya dengan istilah nambang. Ini  sebagai perahu penyebrangan antar desa atau kecamatan yang dibatasi oleh sungai.
Perjalanan kerumah mada  pun terhambat karena ditengah jalan hujan pun menguyur jalanan aspal yang sedari tadi kering akibat cuaca panas yang melanda tak seperti biasanya. Kita mencari tempat berteduh, alhasil berdiri dibawah jembatan tol pun menjadi salah satu pilihannya. Bergerumbul bersama para muda- mudi, petani yang baru saja pulang dari ladang serta pegawai- pegawai instansi pemerintahan lainnya. Hujan pun semakin lebat dan tak terbendung lagi, waktu menunjukkan pukul 13.10  hujan tak menunjukkan tanda- tanda untuk berhenti. Dengan terpaksa kami berlima bersentuhan langsung dengan hujan dan mantel ( jas hujan)  ala kadarnya. Pusing dan kedinginan itulah yang terasa saat itu. Tapi, semua itu tak menghalau untuk terus berangkat ke desa seberang demi tujuan mulia ini.  
Waktu menunjukkan pukul 13.30, hujan mulai reda dengan isyarat bahwa dia mengerti akan keadaan kami saat ini. Tepatnya di desa Megaluh, Jombang aku, ninik, mada, tarwiya dan ana pun melajukan sepeda motor menuju tempat menambang untuk mengangkut kami berlima ke kec. Ploso. Selama diperjalanan aku hanya terdiam membisu dan berfikir “ tidak ada hal yang mudah di dunia ini, sekalipun itu mudah pasti perjuangan untuk mendapatkannya sulit”. Memang proses itu nikmat sekali daripada hasil yang instan karena kita akan menghargai setiap jerih payah yang ada.
Perahupun mulai perlahan berhenti di bibir sungai brantas. Kami berlimapun segera menyalakan mesin motor dengan gesitnya agar cepat sampai di kantor kecamatan Plandaan. Jalan yang dilalui pun tak mudah, dari yang kesasar, hampir jatuh karena jalan licin hingga ban motor berbenturan dengan batu. Serasa aku ingin menangis saja, bukan cengeng melainkan kami hanya lima perempuan berdiri diatas kaki sendiri tanpa bantuan siapapun dan hanya mengandalkan bertanya dari satu warga ke warga yang lain. 
Jarak kantor kecamatan plandaan dari tempat menambang perahu lumayan jauh kira- kira masih 8- 10km melewati jalan aspal yang rusak tergerus air dan hamparan hijau sawah nan indah untuk dipandang. Sesampai di kantor kecamatan kami menemui staff kecamatan untuk meminta profil dan dokumentasi dusun kedungdendeng desa jipurapah kec. Plandaan kab. Jombang. Seperti sebuah kebetulan, kepala desa jipurapah sedang bertandang di kantor kecamatan. Langsung saja, Ninik  berbincang- bincang dengan kades sedangakan aku mencari profil dan dokumentasi dibagian humas dan yang lainnya menunggu diluar karena tidak mungkin bertandang ke kantor kecamatn diibaratkan seperti keroyokan -_- . Tetapi, hasilnya pun nihil, tidak ada dokumentasi dan profil dusun kedungdendeng yang tersimpan di arsip kecamatan karena semua arsip disimpan di balai desa jipurapah.
 Jika kita telisik lebih dekat, untuk mengetahui dusun kedungdendeng melalui google maps. Itu pun nihil hasilnya karena tidak bisa kita lacak melalui alat tersebut. Menurut kepala desa jipurapah “ memang di desa kami belum terdapat listrik” tandasnya. Alasan kuat ini menjadi kunci kenapa kita tidak bisa mencari dusun kedungdendeng desa jipurapah melalui google maps. Menurut salah satu staff di kecamatn plandaan untuk ke desa jipurapahnya sendiri masih harus menempuh 20-25km melalui perjalanan darat yang penuh dengan aspal yang tak terawat dan tergerus air serta bebatuan. Beberapa dokumentasi yang aku dapatkan dari sie humas kecamatan plandaan tentang perjalanan ke salah satu desa di kecamatan plandaan dan ini  bukan akses jalan menuju jipurapah.
 


Jalan bebatuan  dan hutan yang harus dilewati menyebabkan pengendara dituntut untuk membawa kendaraan yang prima agar menjauhi hal- hal yang tidak diinginkan, contohnya ban bocor.
 



Pemandangan salah satu rumah warga yang berdekatan dengan hutan.
 



Setelah selesai dari kantor kecamatan dan berbincang dengan kepala desa jipurapah kami berlima memutuskan untuk pulang dengan melewati medan yang sama dan sekaligus menaiki perahu kembali. Demikianlah singkat cerita tentang perjalanan menuju kecamatan plandaan yang penuh dengan tantangan. Selamat membaca :D
read more