0 komentar

TIRED


TIRED
I’ve been four years waiting you
It’s been you
I imagine you brought a horse pick me up
It’s been impossible that you are
            Where are you honey
            I’m still same as before
            Please bring my heart back
            Thousand miles I pass for looking you
I hated loving you
I hated hoping you
I am kinda sorry be with you as long as we’re together
 I must go to find new home for my broken cause i’m tired

read more
0 komentar

RICA-RICA SETENGAH MATANG




 RICA- RICA SETENGAH MATANG DAN BALADO TULISANKU
Setiap kali saya mencoba menyelesaikan sebuah tulisan ada saja cobaannya, seperti mengantuk. Itu yang kerap kali datang dan pulang tanpa pamit. Satu sampai 3 paragraf serasa lancar berkecepatan tanpa batas. Kemudian untuk penyelesaian atau kalau membuat cerpen cari endingnya sampai penat dan serasa lapar belum nemu- nemu. Ya sudahlah, saya putuskan untuk makan dulu atau minum. Setelah selesai dan ingin merampungkannya tiba- tiba ngadat seketika. Saya berusaha mikir lagi dan pada akhirnya ditunda dulu dengan tidur- tiduran sampai ketiduran beneran (plakkkkkk)
Keesokan harinya, saya berusaha melanjutkan tulisan tersebut, satu sampai 5 kalimat terlampaui ehhhh ngadat lagi dan berhenti di tengah jalan. Tiba- tiba muncul ide baru dan taraaaa nulis baru lagi.
Note: tulisan lama terabaikan dan belum kelar- kelar seperti di anak tirikan saja hihihi
Setelah menulis dengan ide baru tadi semua serasa lancar meskipun carut- marut dan apa daya tulisan pertama termuseumkan.
seperti halnya penggalan frasa ini yang tiba- tiba membuat saya tertegun lama:
“ pada suatu ketika Rita.....”
Tik tok tik tok pertanda bingung, si Rita ngapain ya enaknya. Pengennya sih yang anti mainstream. Tapi apa yaa... mikir. 15 menit terlewatkan, 30 menit sampailah satu jam karena bingung mau dibawa kemana si Rita ( mau dibawa kemana hubungan Rita uhuk uhuk) .  akhirnya saya putuskan untuk mencari inspirasi dengan cara membaca.
Saya memilih sebuah novel. Membaca prolog sampai bab 1. Novel tersebut bisa dikatakan sangat vulgar dari segi diksi maupun jalan ceritanya.  Tinggg ( ide tiba- tiba datang untuk mengeksekusi cerita Rita). Saya  meramu Rita dengan cerita duduk di meja diskotik sambil menggunakan sabu- sabu atau ganja. Kemudian, saya berusaha menyelesaikan satu paragraf dan simpan.
Keesokan harinya, ketika saya membuka file tersebut, saya kaget bin gak nyangka. Kok bisa ya saya menuliskan tentang hal- hal diluar pemikiran saya. Ahhhhhh kayak bukan saya yang nulis ( pikir teraneh muncul)
Note: saya merasa apa yang saya baca mempengaruihi gaya dan pemikiran tulisan tersebut, mungkin itu juga yang dialami penulis pemula lainnya.
Sebagian besar tulisan terlahir dari sebuah observasi, pengalaman pribadi atau bahkan dari perasaan yang sedang kita rasakan pada waktu itu. Saya pernah mengalami ( sebut saja) kegalauan dan mencoba menulis sebuah kalimat. Sebenarnya ingin menuliskan cerita petualangan atau tentang kasih sayang dalam keluarga. Ehhhhh malah jatuhnya ke tulisan galau.
“ semua terasa hampa ketika aku tahu hatimu bukan untukku.........”
Hal ini kemungkinan terjadi karena kurangnya menetralkan pikiran dan perasaan ( eakkkkk). Butuh asupan gizi dan pencerahan kayaknya nih hihihi. Ohhhhh tidakkkkkkk
Halangan seorang penulis itu memang harus istiqomah. Istiqomah?? Susahhhh men, iya emang susah kalau tidak tahan godaan pasti bakal nyerah huhuhu. Yuk yuk semangatin diri sendiri. Menulis apapun itu sah- sah saja selagi dapat mengoptimalkan gaya imajinasi kita meskipun terkadang kurang sinkron dengan harapan, keinginan ataupun perasaan.


read more
5 komentar

TRIP DAN TIPS BAGI WISATAWAN YANG BARU DAN BELUM PERNAH BEREKSPLORASI DI YOGYAKARTA


TRIP DAN TIPS BAGI WISATAWAN  YANG BARU DAN BELUM PERNAH BEREKSPLORASI DI YOGYAKARTA 
SESSION 1
Libur telah datang. Saat yang paling dinanti untuk sekedar refreshing atau mengistirahatkan otak sejenak dari setumpuk tugas kerja ataupun deadline yang menjadi momok yang menghantui. Sebenarnya tak ada rencana untuk menjelajahi kota pelajar ini, tetapi untuk pergi kesana merupakan salah satu impian. Hal yang membuat saya menyukainya karena rasa kagum sekaligus mencintai Yogyakarta karena penuih dengan sejarah dan tempat- tempat budaya.
Sudah banyak daftar tempat wisata yang letaknya berdekatan dengan malioboro yang sudah saya impikan sebelum keberangkatan. Kesempatan menjelajah ini merupakan karena saya ada suatu keperluan yang mendesak yang mengharuskan pergi kesana. Memang sudah lama kejadiannya tetapi apa salahnya jika saya ulas kembali barangkali sebagai patokan atau sekedar ancang- ancang untuk melancong kesana.
Jika anda berencana pergi ke Yogyakarta dengan dana pas- pasan atau keuangannya sudah terencana sebelumnya dan menaiki kereta api turun di Stasiun Tugu. Kemudian anda menginap dihotel dekat stasiun tersebut. Saya sarankan untuk menjangkau hotel sekitaran jalan pasar kembang ( jalan ini letaknya dekat dengan stasiun tugu dan malioboro) jangan menaiki becak karena ketika anda keluar dari stasiun maka akan banyak tukang becak menawarkan jasa. Tarifnya bervariasi mulai dari 20 ribu sampai 50 ribu padahal jika ditempuh dengan jalan kaki itu tidak sampai 10 menit- an ( tetapi tergantung juga jauh dekatnya). Lain halnya jika anda merasa sudah sangat letih atau capek tidak apalah untuk menumpangi becak,itung- itung merileksasikan otot kaki yang tegang. Apalagi jika kedatangan kereta malam hari sangat disasrankan untuk naik becak, tetapi jika anda mampu menawar harga becak untuk meminimalisir pengeluaran bisa saja dilakukan. Disini pintar- pintar wisatawan dalam mengambil keputusan.  Ini pengalaman pribadi, waktu itu saya turun stasiun tugu dan akan menuju Hotel Ratna Batik (bukan endorse ya hihihi). Ketika saya dan rekan- rekan mulai keluar dari area stasiun sudah banyak tukang becak mengantri sekedar menawarkan atau membujuk agar menggunakan jasanya. Saya sendiri berinisiatif untuk jalan kaki saja sambil melihat ke google map.
“becak mbak?” kata seorang tukang becak kayuh yang sedari tadi membuntuti kami.
mboten pak ( tidak pak), kami jalan kaki saja”
“ mau kemana mbak emangnya?
“kami mau ke istana batik”
“ owalah daerah pasar kembang, naik becak saja mbak, itu lumayan jauh lho dari sini”
Saya mencoba melihat ke google map lagi
“ 20 ribu ae mbak iku lumayan adoh nek mlaku ( itu lumayan jauh kalau jalan kaki”
Rekan saya meng-iyakan tukang becak tersebut. Saya berfikir positif saja bahwa tempat kami jauh  dari jangkauan stasiun Tugu. Kebanyakan becak kayuh bukan bentor (becak motor) yang berada di sekitaran stasiun ini. Setelah 10 menit mengayuh becaknya bapak tersebut memberhentikan kami semua di sebuah bangunan klasik yang penuh dengan ornamen- ornamen khas Jawa.
“sudah sampai, ini tempatnya”
“lho beneran pak?”
“iya”
Kami terdiam sejenak dan berguman
“ waduh kena zonk ini, jarak dekat kena tipu 20 ribu”
Tetapi mau gimana lagi, waktu sudah menjelang malam dan keadaan pun sudah capek.
            Tempat wisata yang berdekatan dengan Malioboro yang bisa anda capai dari jalan pasar kembang dengan becak atau jalan kaki ada Benteng Vredeburg, titik 0KM, tugu Jogja, dan pastinya Pasar Beringharjo. Sebelum anda menyusuri daerah- daerah bersejarah tersebut sebaiknya anda memulainya di pagi hari karena cuaca yang masih cerah dan jalanan sepanjang Malioboro- Beringharjo sepi dan tidak terlalu banyak kendaraan, becak ataupun delman yang berlalu- lalang. Sambil menikmati udara pagi jogja, kurang afdol jika tidak terlebih dahulu ber-selfie ria atau sekedar berfoto di depan plang jalan Malioboro yang sepanjang hari ramai dikunjungi wisatawan dari pagi sampai petang.  Setelah itu, anda bisa langsung melanjutkan perjalanan ke tempat terdekta yaitu Benteng Vendenburgh.
Suasana plang hijau bertuliskan Jalan Malioboro di pagi hari  yang masih sepi pengunjung terletak di area Malioboro-Beringharjo

Setelah selesai berfoto di tempat tersebut anda bisa melanjutkan ke tempat terdekat, seperti Benteng Vredeburg. Menurut pengalamana saya, Benteng Vredeburg di pagi hari iu asri pakek banget. Sepanjang perjalanan menuju benteng ini, pedagang kaki lima, angkringan bahkan penjual sate sepanjang jalan belum nampak meskipun sudah ada beberapa yang menggelar dagangannya. Selain itu, tiket masuknya sangat terjangkau, cukup mengeluarkan 2000 rupiah sekali masuk. Di dalam kawasan benteng terdapat homestay, bangunan teater mini yang menampilkan sejarah Benteng Vredeburg. Kemudian ada beberapa bangunan yang di dalamnya menyimpan hal- hal yang sangat edukatif yang berhubungan dengan hal-hal yang menyangkut benteng ini. Setelah itu, ada beberapa pantung pahlawan nasional dan miniatur tugu jogja yang terlihat seperti asli. 
Tiket masuk benteng Vredeburg senilai 2000 rupiah dan suasana di sekitaran kawasan benteng sudah ada beberapa pengunjung yang memadati.

Penampakan dari depan pintu masuk benteng, masih tergelantung bendera merah putih karena masih bersuasana hari kemerdekaan nasional ke-71th.
 
Hari sudah mulai siang dan panas. Kami semua memutuskan untuk mengakhiri keliling Benteng Vredeburg dan tidak menuju titik OKM atau bahkan tugu jogja. Jika menuju kedua tempat ini, suasana yang indah untuk dibangun adalah malam hari. Memang titik 0KM pada siang hari juga pasti banyak orang berlalu lalang dan pastinya banyak pedagang cinderamata atau kaos oblong khas Jogja.
Ketika keluar dari benteng, di sepanjang jalan banyak ibu- ibu menjajakan sate yang di panggang di atas tungku arang. Saran saya hati- hati jika membeli sate seperti ini, bisa- bisa anda memakan sate kulit ayam bukan sate daging ayam karena ini kejadian waktu saya membeli sate di dekat benteng.
Saya mengamati satu per satu pedaagang sate disini, saya berguman
“sepertinya enak siang- siang makan sate dan belum pernah juga makan sate disini”
Saya bertanya kepada salah satu pedagang sate “ satenne pintenan buk (harga satenya berapaan bu?)”
“ 10 ribu dapat 8 sate dan 1 lontong”
“ iya bu, saya pesan 1”
Saya sebenarnya penasaran dengan rasa bumbu dan satenya seperti apa, di sekitaran benteng sampai ke jalanan Beringharjo maupun Malioboro banyak sekali pedagang serupa seperti ini.  Setelah ibu itu memberikan se-pincuk sate kepada saya
“nyam” satu tusuk sudah terlewatkan saya makan dan saya kena zonk lagi, huhuhu seluruh tusuk sate itu ternyata kulit ayam bukan dagingnya, kalau gini mah saya kapok buat beli, kalau untuk segi rasa sih lumayan tapi itu lho kulit ayam yang bikin saya greget” zonk kedua kalinya sudah. Mending ketika anda membeli sate di pedagang pinggiran seperti saya ini, ya lebih berhati- hati lagi apakah itu sate daging ayam atau kulit ayam” maaf foto satenya gak ada soalnya keburu ngacir saya hihihi.
Perut terasa masih lapar, saya dan rekan- rekan ingin makan gudeg. Makanan ini jangan sampai ketinggalan kalau berkunjung ke Jogja. Kami mencari becak untuk menuju tempat dimana satu kawasan berjualan gudeg saja mulai dari ujung kiri sampai ujung kanan hanya masakan gudeg yang ditawarkan.  Kami makan di sebuah kedai nasi gudeg yang harganya di bandrol cukup terjangkau. Disni bervariasi harganya tergantung isian yang diinginkan pembeli, seperti halnya harga 25 ribu itu sudah termasuk gudeg dan isiannya ( termasuk nasi, sambel krecek, telor dan gudegnya sendiri) serta paha ayam. Porsinya sudah lebih dari cukup. Menurut pengalaman teman saya yang pernah membeli gudeg di daerah sekitaran Pasar Beringharjo, uang 25ribu hanya dapat seporsi gudeg dan sate telur puyuh saja. kalau dari segi rasa tergantung selera masing- masing orang sih. Kata teman saya masih mending di kawasan gudeg ini kalau dilihat dari porsi penyajiannya.
Sebelum makan gudeg, kami dari Benteng Vredebug menaiki becak. Awalnya bapak tukang becak menawarkan 10 ribu itu keliling tiga lokasi yang biasanya menjadi tujuan wisatawan, seperti tempat bakpia patok, dagadu dan ( maaf saya lupa satunya hehehe). Kami menjelaskan bahwa tidak pergi ke tempat tersebut, tetapi ke tempat kawasan gudeg.
“ berapa pak? 10 ribu apa?
“ 20 ribu mbak”
10 ribu saja pak, ya ya?
“ iya deh”
Setelah selesai makan gudeg dan kami kembali ke tempat penginapan. Saya menyodorkan uang 10 ribu.
“ ini pak”
“ 15 ribu mbak”
“lho pak katanya 10 ribu kok sekarang 15 ribu?”
“ jaraknya jauh mbak dari tempat tadi kesini, kan jalannya muter”
Dengan perasaan sedikit dongkol saya memberikan uang tersebut. Kalau menurut saya, sebelum anda menaiki becak tanyakan terlebih dahulu harga pastinya berapa. Kalau bisa ditawar ya tawar saja, tetapi kalau tukang becak tersebut menggunakan becak kayuh bukan bentor mending ikhlaskan saja itung- itung amal. Kan namanya ngayuh itu perjuangannya berat karena tenagamnya harus ekstra kuat.  
Pada malam harinya jalan sekitaran malioboro padat merayap dan banyak wisatawan atau penduduk lokal yang pergi kesini. Becak maupunn delman banyak berlalu lalalng juga mengantarkan penumpang ke tempat yang mereka inginkan. Pedagang kopi keliling yang di seduh dengan alat canggih ala- ala cafe pun tersedia, sepertinya mereka merupakan mahasiswa- mahasiswa kreatif pemburu kehidupan mandiri. Selain itu, ada juga gerobak dorong penjual wedang ronde. Setelah itu, setelah disuguhi beberapa minuman yang memikat tenggorokan tersebut. Di seberang jalan, tepatnya di depan Malioboro Mall ada beberapa mahasiswa mengadakan pentas menari keliling dan gratis. Hal ini dilakukan karena mereka semua akan pentas di luar negeri untuk melestarikan tarian tradisional Indonesia.  Sungguh kehidupan malam yang mempesona sekali yang tidak akan ditemui di tempat saya sendiri. Saya terus menyusuri jalan setapak. Berdekatan dengan mahasiswa yang mengadakan tarian keliling itu, ada banyak gerombolan orang, saya penasaran dan mencoba mendekat, ternyata ada perkusi tradisional yang membawakan tembang- tembang jawa. Dimana lagi coba lihat beginian kalau tidak di Jogja. Disinilah terkadang saya merasa melted sendiri dan membuat jantung saya berdegup kencang seolah menandakan betapa Jawa itu berwarna dan unik jika kita mampu melihat dari sisi seninya.
Tugu Jogja dari pasar kembang kurang lebih 20 menit- 30 menit jika ditempuh dengan jalan kaki, tetapi kalau naik becak hanya sekitar 10 menitan. Banyak angkringan yang buka di sepanjang jalan, mulai dari yang klasik sampai yang berkelas elit. Semua tersedia. Daerah tugu sangat ramai banyak muda mudi berlalu lalang untuk sekedar berselfie ria di sepanjang jalan atau sekedar makan sate atau bisa juga berfoto dengan binatang- binatang buas yang dibandrol tarif seikhlasnya untuk satu kali jepretan. Ada ular yang cukup besar berwarna kuning dan burung hantu. Selain itu, juga ada banyak yang mengenakan kostum badut sampai dengan prajurit istana, biasanya mereka menawarkan diri untuk sekedar berfoto dengan mereka dan membayar 5000 saja. Tugu Jogja tempatnya terletak di tegah pertigaan jalan, jadi kalau anda kesini lebih baik tengah malam saja untuk menghindari hal- hal yang tidak diinginkan. 
Suasana sekitar Tugu Jogja yang dipadatin pengunjung. Mereka duduk di pinggiran monumen dan ada yang berfoto mengabadikan momen tersebut.
Lalu lintas di sepanjang Tugu Jogja ramai kendaraan. Pengunjung beramai- rami menyebrangi jalan yang dibantu oleh polisi dan polwan.
 
Selain Tugu Jogja yang enak dinikmati pada malam hari, yaitu titik 0km. Letaknya di perempatan jalan (seingat saya dekat Bank Indonesia hihihi). Disini pemandangannya hanya plang yang bertuliskan titik 0 kilometer saja dan tidak ada yang lain, tetapi bagi pelancong kurang greget dan afdol kalau belum kesini.

Titik 0 kilometer dan situasi disekitarnya yang ramai orang belalu lalalng
 
read more