RICA-RICA SETENGAH MATANG




 RICA- RICA SETENGAH MATANG DAN BALADO TULISANKU
Setiap kali saya mencoba menyelesaikan sebuah tulisan ada saja cobaannya, seperti mengantuk. Itu yang kerap kali datang dan pulang tanpa pamit. Satu sampai 3 paragraf serasa lancar berkecepatan tanpa batas. Kemudian untuk penyelesaian atau kalau membuat cerpen cari endingnya sampai penat dan serasa lapar belum nemu- nemu. Ya sudahlah, saya putuskan untuk makan dulu atau minum. Setelah selesai dan ingin merampungkannya tiba- tiba ngadat seketika. Saya berusaha mikir lagi dan pada akhirnya ditunda dulu dengan tidur- tiduran sampai ketiduran beneran (plakkkkkk)
Keesokan harinya, saya berusaha melanjutkan tulisan tersebut, satu sampai 5 kalimat terlampaui ehhhh ngadat lagi dan berhenti di tengah jalan. Tiba- tiba muncul ide baru dan taraaaa nulis baru lagi.
Note: tulisan lama terabaikan dan belum kelar- kelar seperti di anak tirikan saja hihihi
Setelah menulis dengan ide baru tadi semua serasa lancar meskipun carut- marut dan apa daya tulisan pertama termuseumkan.
seperti halnya penggalan frasa ini yang tiba- tiba membuat saya tertegun lama:
“ pada suatu ketika Rita.....”
Tik tok tik tok pertanda bingung, si Rita ngapain ya enaknya. Pengennya sih yang anti mainstream. Tapi apa yaa... mikir. 15 menit terlewatkan, 30 menit sampailah satu jam karena bingung mau dibawa kemana si Rita ( mau dibawa kemana hubungan Rita uhuk uhuk) .  akhirnya saya putuskan untuk mencari inspirasi dengan cara membaca.
Saya memilih sebuah novel. Membaca prolog sampai bab 1. Novel tersebut bisa dikatakan sangat vulgar dari segi diksi maupun jalan ceritanya.  Tinggg ( ide tiba- tiba datang untuk mengeksekusi cerita Rita). Saya  meramu Rita dengan cerita duduk di meja diskotik sambil menggunakan sabu- sabu atau ganja. Kemudian, saya berusaha menyelesaikan satu paragraf dan simpan.
Keesokan harinya, ketika saya membuka file tersebut, saya kaget bin gak nyangka. Kok bisa ya saya menuliskan tentang hal- hal diluar pemikiran saya. Ahhhhhh kayak bukan saya yang nulis ( pikir teraneh muncul)
Note: saya merasa apa yang saya baca mempengaruihi gaya dan pemikiran tulisan tersebut, mungkin itu juga yang dialami penulis pemula lainnya.
Sebagian besar tulisan terlahir dari sebuah observasi, pengalaman pribadi atau bahkan dari perasaan yang sedang kita rasakan pada waktu itu. Saya pernah mengalami ( sebut saja) kegalauan dan mencoba menulis sebuah kalimat. Sebenarnya ingin menuliskan cerita petualangan atau tentang kasih sayang dalam keluarga. Ehhhhh malah jatuhnya ke tulisan galau.
“ semua terasa hampa ketika aku tahu hatimu bukan untukku.........”
Hal ini kemungkinan terjadi karena kurangnya menetralkan pikiran dan perasaan ( eakkkkk). Butuh asupan gizi dan pencerahan kayaknya nih hihihi. Ohhhhh tidakkkkkkk
Halangan seorang penulis itu memang harus istiqomah. Istiqomah?? Susahhhh men, iya emang susah kalau tidak tahan godaan pasti bakal nyerah huhuhu. Yuk yuk semangatin diri sendiri. Menulis apapun itu sah- sah saja selagi dapat mengoptimalkan gaya imajinasi kita meskipun terkadang kurang sinkron dengan harapan, keinginan ataupun perasaan.


0 komentar:

Posting Komentar