STANDART



STANDART
25 September 2016
Feby, Ana, Ninik, Tarwiya, Mada
Kawan serangkai adalah sebutan yang cocok untuk kami para musafir cinta ( uhukkkk). Kami terdiri dari lima orang yang hampir setiap harinya selalu bersama- sama karena satu kelas di universitas yang sama.
Siang itu begitu panas sekali. Hawanya terasa ingin minum yang seger-seger. Salah satu diantara kami mengajak untuk minum es bersama di tempat biasa yang menyajikan es degan dengan ukuran besar dengan harga miring dan bersahabat. Tidak menunggu lama lagi, motorpun kami lajukan secepat mungkin dengan kecepat rossi dan gaya orang jualan cilok. Akhirnya, semua itu nihil, kiosnya libur. Kemudian terbesit pikiran untuk bersantai ria di pinggir alun- alun dengan menikmati segelas es degan yang seolah sudah menari- nari dan menanti untuk segera diteguk. Segeralah kami tancap gas menuju alun- alun dan tidak lupa sholat dulu barangkali dapat es degan gratisan dari teman sebelah yang jarang punya hutang.
Angin sepoi- sepoi menerpa dedaunan pohon yang rindang di sekitar alun- alun. Es degan yang dinanti sudah datang. Lagsung saja diminum dengan beberapa kali tegukan habis tanpa sisa. Serta, guyonan selalu mengiringi setiap napak tilas kemana kaki melangkah tak lupa tersematkan. Tak sengaja aku terbersit pertanyaan salah satu tempat makan yang ramai dikunjungi muda- mudi kekinian. Mie ****** (nama disamarkan menjadi tanda bintang) yang konon punya tingkat kepedasan yang berbeda di setiap menunya. Seperti mie original tanpa cabe yang begitu seterusnya menyesuaikan pesanan pelanggan. Dua diantara kami berlima menjelaskan seolah SPG tempat tersebut dengan intonasi dan irama yang sangat memikatku untuk menikmati sepiring mie pedas yang lagi hits saat ini.
Adu pendapat sempat terjadi karena uang sudah habis untuk bayar es degan karena mana mungkin kita bawa uang lebih yang ada itu pinjam teman nanti bayarnya kalau ingat  :D . Selang beberapa menit untuk memutuskan kepada siapa berhutangnya dan pilihan jatuh kepada Mada ( gadis kecil imut dan mengemaskan ini tidak ada hutang sama sekali dengan kita berempat dan ini adalah salah satu alasannya).
Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 sudah waktunya beranjak pergi meninggalkan penjual es degan yang sedari tadi menanti kita untuk segera pergi.
Penjualnya pun bertanya kepada kita
“ kuliah dimana mbak?”
“disitu pak” jawab Mada sambil menunjukkan jari kearah jalan raya
Maksudnya apa kuliah atau nguliah itu di jalan raya. Jawaban mada pelik sekali hingga aku terdiam dan tertegun melihatnya.
Tempat makan yang menyajikan segala macam tingkat kepedasan mie tidak jauh dari alun- alun. Perjalanan kurang lebih 5 menit.  Setelah disodorkan list menu aku penasaran dengan tingkat kepedasan  “mie nyebelin”.
“Kalian mau pesan apa” tanya Mada
“ aku mie ori” jawab Ninik dan Ana bebarengan
“aku juga deh” timpal Tarwiya
“ aku mie nyebelin” sahutku
“ gak usah nyebelin, standart aja” nyolot mereka berempat
“ ayolah, pengen tau rasanya mie nyebelin itu gimana”
“ gak usah, nanti kalau perutnya sakit gimana? Kita kan sayang sampean.  
Aku tersentak dengan jawaban itu langsung tak berkutik sedikitpun bibirku untuk menjawabnya lagi. Akhirnya aku tertunduk lemas meg-iyakan pilihan mereka. Mie standart yang rasanya ya tidak terlalu pedas.
Pesanan datang, inilah pertama kalinya makan dengan mereka dengan skala kepedasan yang berbeda tanpa minum. Pastinya sudah terbayangkan gimana bibir ini jontor tapi untung saja mie pilihan mereka untukku tidak terlalu pedas. Ini tindakan ala acara tv tahan pedas dapat 300rb tapi kali ini gak dapat uang tapi dapatnya hutang. 
Setelah selesai makan, kami pulang untuk segera dapat meraih segelas air putih sebagai obat lidah dan bibir sexy ini.
NB:
Sampean sebutan untuk teman sebaya yang masih menjunjung tinggi  kesopanan yang kalau di bahasa Indonesia yaitu kamu.  
 kiri ke kanan Mada, Feby, Ninik, Tarwiya dan Ana

3 komentar:

Tarwiya Ulfah mengatakan...

tantangan adu sexy bibir :v

Unknown mengatakan...

Bibir jontor mari ngunu jontos

Unknown mengatakan...

Bibir jontor mari ngunu jontos

Posting Komentar