Sebelum kalian baca cerita dibawah ini. Pertama jangan
mikir bahwa cerita ini mengandung 50% bahan cinta dan 50% sayang yang ditaburi
dengan bubuk rindu atau baper. Eitss ini sekedar cerita motivasi yang coba aku
kemas menjadi cerita yang mungkin ambruladul *hihihi khas remaja tentang
memotivasi diri dalam menulis, tapi sebenarnya yang nulis sendiri butuh
motivasi sih *ehhh. Daripada mulai ngaco. Langsung saja..... taraaaaaaa ^_^
ANTARA AKU, KAU DAN KARYAMU
(tulis- menulis)
Kita ibarat pulau yang terpisahkan oleh sebuah selat yang
berujung pada laut. Aku tak pandai sepertimu yang mampu membuat tulisan-
tulisan nan indah dan menciptakan decak kagum pada setiap penikmat seni.
Terkadang aku ingin sepertimu menjadi penulis sehandal dirimu dalam mengolah
kata yang rupawan nan elok dicerna oleh setiap manusia tanpa batasan umur, tapi
semua waktu, tenaga pikiran aku curahkan semua nihil. Aku merasa minder ketika
ku mulai baca sebait puisi ataupun sebaris cerpen yang aku buat semalam suntuk
sampai tak tidur. Merangkai kata buatku sangat sulit karena hidupku terlalu
banyak misteri yang tak ingin ku ungkap lewat tulisan. Dalam benakku aku selalu
merenungkan “ sampai kapan aku akan begini?”. Ketika stress berat melanda,
piklirku kacau. Mau menulis aku mati kutu dihadapan alat tulis maupun laptop.
Ibarat barisan gerak jalan anak SD untuk memperingati 17 Agustus yang mulai
lelah berlatih. Aku ingat saat kau menulis sebuah puisi cinta entah buat siapa
aksara- aksara itu kau susun, tanganmu begitu licah mengetik diatas keyboard
laptop tuamu yang mulia renta. Terbesit rasa minder yang amat dalam padamu sang
pujangga ( red; sebutan untuk orang- orang pencinta dan penikmat puisi/sastra).
via www.yarbi.my.id
Setelah beberapa menit aku amati dia tanpa sepengetahuannya.
Dia mulai tersadar “ kenapa kau amatiku seperti itu?” aku tersontak “ oh gak
kok gak apa- apa, eh by the way, kamu kok lancar gitu sih nulis- nulisnya? Aku
aja buat satu paragraf aja bisa berjam- jam terus berhenti karena kekurangan
ide. Huft, aku gitu terus, mangkannya aku heran lihat kamu ngetik kalimat
segitu panjangnya dan buat satu paragraf aja gak banyak mikir kayak aku.” Dia
hanya tersenyum” halah kamu mah gitu, alay mulu kalau ngomong. Ini mah biasa
aja it’s nothing spesial jadi kamu gak usah terheran- heran gitu. Kamu juga
bisa kok. Tergantung kamu bisa bertahan untuk tetap belajar atau berhenti
ditengah jalan”. Aku terdiam dan spontan sambil cengar-cengir ” punya tips gak
kamu buat aku?, baranglkali habis kamu kasih aku pencerahan langsung otakku
cerah dan gak gagal paham lagi *ehh, biasalah maklum beban hidup tidak
berbanding lurus dengan berat badan * eakk. Sekali lagi kamu juga harus maklum,
mungkin aku terlalu banyak memikirkan hal- hal atau orang- orang yang gak
pernah memikirkan aku *hihihi “. Dengan senang hati dia ngasih aku tips
tersebut meskipun pada dasarnya aku rada males buat ngelakuinnya sihh *hihihi “
yang pertama kamu nulis apa saja yang kamu suka, yang terpenting jangan batesin
dirimu sendiri deh maksudnya kalau pengen nulis yang isinya curahan hati ya
udah tulis aja, jangan mikirin pendapat orang karena gak pernah ada habisnya
malah nanti buat kamu stuck gak pernah memulai tapi pengen akhirin aja, bingung
kan? Aku juga *uhuk.
Penjelasan dia masih sampai tips yang pertama itupun
diselipin banyolan- banyolan ( red; bercandaan) khas dia. Diluar hujan begitu deras
seperti tetesan embun yang ingin dilewatkan aku bersamanya. Kami tak seromantis
orang pikirkan. Aku dan dia hanyalah teman dan hubungan kami sesederhana kata
teman itu sendiri. “ ehhh mau dilanjut kagak sih tips dari aku?main nglamun-
nglamun aja, aku ganteng ya ? *_* itu mah sudah takdir”. “pede banget kamu”
sahutku mencela dia. “ sebenarnya sih aku mau bagi tiga tips aja ya? Jangan banyak-
banyak nanti kamu muntah- muntah, kan berabe (red; berantakan) kalau kamu
muntah disini, dikira orang- orang aku apa-apain kamu *ehemm. Ok aku lanjutin, tips
kedua ini aku dapat dari acara talkshow Dee Lestari bulan Mei kemarin
bahwasannya jangan pernah menunda- nunda untuk menulis. Kalau kamu menundanya,
kamu gak akan pernah tau sensasinya menulis. Awali tulisan itu dengan menulis
atau mendeskripsikan hal- hal yang kecil karena ini juga masukkan dari salah
satu dosenku sih. Yang terakhir nih dari Dee juga kalau kamu harus berani
gagal. Gagal kan awal dari kesuksesan yang tertunda kan? Ya udah yakin aja
kalau kegagalan yang didapat itu awal dari kesuksesan yang besar dalam hidup. Udah
sih menurutku gitu aja. Ini tips sebenarnya juga buat aku soalnya aku tipe
cowok yang moody sih. Kadang kalau pengen nulis ya nulis kalau ak ya udah aku
anggurinn”. Hemm semua apa yang dikatakan olehnya serasa 50% yang masuk ke
dalam otak dan sisanya ikut terbang bersama celotehannya yang ibarat motivator
wara- wiri di TV swasta. Waktu serasa enggan mengusik perbincangan menarikku dengan
dia yang sembari tadi mengetik naskah pusi, cerbung ataupun cerpen karena
suasananya seperti masih sore untuk terus melanjutkan kongkae- kongkae (red; nongkrong)
malam ini. Setelah dia menceramahiku tentang tulis – menulis. Aku putuskan untuk
pamit pulang karena jam tanganku sudah menunjukkan pukul 10 bagian jarum jam
yang kupercepat 1 jam 15 menit *hihihi. “ makasih ya atasan siraman rohani dan
pencerahannya sangat cerah secerah aurora di kutub selatan” pujiku pada dia
yang sebenarnya hanya kamuflase belaka dan settingan. “ ok sama” sahutnya tanpa
memandang wajahku sama sekali karena dia sedang fokus menggarap cerpen komedi-
horror. Padahal sebenarnya tanpa dia menulis cerita horror. Pembaca pun kalau
lihat wajah dia sudah lebih horror *hahaha dari pada tulisannya.





0 komentar:
Posting Komentar